Lewati ke konten
Keislaman

PCNU Ponorogo Hadirkan Gus Kautsar pada Peringatan Hari Santri 2026

kangpand3 menit bacaPC Kabupaten Ponorogo
Hadirkan Gus Kautsar, Puncak Peringatan Hari Santri 2026 PCNU Ponorogo Tegaskan Nilai Kepesantrenan
Hadirkan Gus Kautsar, Puncak Peringatan Hari Santri 2026 PCNU Ponorogo Tegaskan Nilai Kepesantrenan
Gus Kautsar - PP Al-Falah Ploso Kediri
Foto: Generate AI
1 / 2

Hadirkan Gus Kautsar, Puncak Peringatan Hari Santri 2026 PCNU Ponorogo Tegaskan Nilai Kepesantrenan

Bagikan

ANSORPONOROGO – Peringatan Hari Santri 2026 menjadi momentum bagi Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat tradisi pesantren sekaligus menyiapkan generasi santri yang mampu menjawab tantangan zaman. Semangat tersebut akan dihadirkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ponorogo melalui kegiatan peringatan Hari Santri pada Minggu, 15 November 2026.

Mengusung semangat “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, kegiatan tersebut akan menghadirkan KH. Abdurrohman Al Kautsar atau Gus Kautsar sebagai pengisi mauidhoh khasanah. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, tersebut dijadwalkan menyampaikan tausiyah di halaman Masjid NU Kabupaten Ponorogo mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai.

Gemini_Generated_Image_bzwtg0bzwtg0bzwt

Ketua PCNU Kabupaten Ponorogo, Dr. Idham Mustofa, M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan Gus Kautsar bukan tanpa alasan. Menurutnya, Gus Kautsar merepresentasikan generasi pesantren yang kuat dalam tradisi keilmuan, tetapi mampu berkomunikasi dengan perkembangan zaman.

“Kami ingin menghadirkan pesan bahwa tradisi pesantren bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai untuk membangun masa depan,” ungkapnya.

Idham menjelaskan, PCNU Ponorogo menerjemahkan semangat Hari Santri melalui penguatan amaliah Ahlussunnah wal Jamaah, menjaga ukhuwah, memperkuat kepedulian sosial, serta merawat persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, tantangan pesantren saat ini bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana tetap relevan menghadapi perubahan zaman. Prinsip al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah menjadi landasan dalam menyikapi perkembangan tersebut.

“Pesantren harus tetap kokoh dalam akidah, fikih, akhlak, dan adab, tetapi terbuka terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, digitalisasi, dan inovasi. Modernisasi tidak boleh menghilangkan jati diri pesantren,” jelasnya.

Baca juga: Hari Santri, Ranting Ansor Gabel Hidupkan Tradisi Dzikir dan Ngaji

Santri Menghadapi Tantangan Era Digital

Lebih lanjut, Idham menilai derasnya arus informasi dan perubahan budaya menjadi salah satu tantangan besar bagi santri dan pesantren. Tidak semua informasi maupun perkembangan budaya sejalan dengan nilai keislaman dan kebangsaan.

Karena itu, santri dituntut memiliki keteguhan akidah, kedalaman ilmu, kematangan akhlak, serta literasi digital. Bekal tersebut diperlukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh hoaks, intoleransi, radikalisme, maupun budaya individualisme.

Ia berharap generasi muda NU tidak hanya kuat dalam penguasaan ilmu agama, tetapi juga mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan pada masa mendatang.

“Jadilah generasi yang berakar kuat, tetapi berpandangan jauh ke depan. Jangan pernah meninggalkan sanad keilmuan, adab kepada guru, tradisi pesantren, dan kecintaan kepada tanah air. Namun, kuasai ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, dan keterampilan masa depan,” pesannya.

Pesantren Harus Hadir di Tengah Masyarakat

Dalam konteks pembangunan daerah, Idham menegaskan bahwa pesantren dan santri merupakan kekuatan sosial penting bagi Kabupaten Ponorogo. Kontribusinya tidak terbatas pada pendidikan agama, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pelayanan sosial, dakwah, dan pemeliharaan kerukunan.

PCNU Ponorogo, lanjutnya, ingin agar potensi pesantren dan santri semakin terhubung dengan agenda pembangunan daerah. Dengan demikian, keberadaan pesantren tidak hanya dirasakan dalam lingkungan pendidikan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Menurutnya, hubungan antara pesantren, santri, dan masyarakat perlu terus diperkuat melalui komunikasi, kolaborasi, dan pengabdian.

“Pesantren jangan menjadi menara gading, tetapi harus hadir di tengah persoalan masyarakat. Santri juga harus membawa nilai-nilai pesantren ketika kembali ke masyarakat,” tegasnya.

Melalui peringatan Hari Santri 2026, PCNU Ponorogo berharap semangat tradisi pesantren tidak berhenti sebagai romantisme sejarah. Tradisi tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk melahirkan santri yang alim, berakhlak, mandiri, produktif, serta mampu memberikan solusi bagi umat dan bangsa.

Selain mauidhoh khasanah Gus Kautsar, kegiatan ini juga akan dimeriahkan penampilan Hadroh Teras Gubuk bersama Gus Farhan Li Ulil Albab. Kegiatan tersebut terbuka untuk masyarakat umum dan dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 15 November 2026, mulai pukul 20.00 WIB di halaman Masjid NU Kabupaten Ponorogo.

Baca juga: Dua Bulan Kesulitan Air, Ansor Ponorogo Salurkan Bantuan untuk Warga Tranjang, Siman

Bagikan

Berita terkait

Berita Jaringan