Lewati ke konten
Kegiatan

5.000 Santri Siap Penuhi Aloon-Aloon Ponorogo, Eko Triyono: Hari Santri Harus Berdampak, Bukan Sekadar Seremonial

kangpand6 menit bacaPC Kabupaten Ponorogo
Eko Triyono, Wakabid Pemberdayaan Masyarakat Desa PC GP Ansor Ponorogo, Ketua Panitia Peringatan Hari Santri 2026 Kabupaten Ponorogo
Eko Triyono, Wakabid Pemberdayaan Masyarakat Desa PC GP Ansor Ponorogo, Ketua Panitia Peringatan Hari Santri 2026 Kabupaten Ponorogo
Bagikan

ANSORPONOROGO — Suasana persiapan Hari Santri 2026 mulai terasa di Kabupaten Ponorogo. Di Sekretariat Panitia Hari Santri 2026, Gedung KORPRI Kabupaten Ponorogo, Ketua Panitia Eko Triyono melakukan pemeriksaan akhir (final checking) pada Selasa (20/10). Sejumlah persiapan dimatangkan untuk memastikan Upacara Peringatan Hari Santri pada 22 Oktober mendatang berlangsung khidmat dan lancar.

Sebanyak 5.000 peserta dari unsur pesantren, lembaga keagamaan, aparatur sipil negara (ASN), organisasi kemasyarakatan, dan berbagai elemen masyarakat diproyeksikan mengikuti upacara yang akan digelar di Aloon-Aloon Ponorogo pada 22 Oktober 2026. Sebelum pelaksanaan, panitia menjadwalkan gladi bersih untuk mematangkan koordinasi petugas, tata upacara, serta kesiapan teknis di lapangan.

Bagi Eko, yang juga merupakan kader GP Ansor Ponorogo, persiapan ini bukan semata-mata urusan teknis penyelenggaraan. Lebih dari itu, Hari Santri merupakan momentum untuk merawat ingatan sejarah sekaligus meneguhkan kembali peran santri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Hari Santri bukan hanya tentang memperingati sejarah perjuangan para ulama dan santri. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk meneguhkan kembali peran santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami ingin seluruh rangkaian Hari Santri di Ponorogo tidak berhenti pada seremoni, tetapi juga menghadirkan semangat kolaborasi, pengabdian, dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” ungkap Eko.

Merawat Tradisi, Menguatkan Sinergi

Peringatan Hari Santri 2026 di Ponorogo menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, pesantren, lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas masyarakat memiliki ruang untuk terlibat dalam menyukseskan agenda tahunan ini.

Sinergi tersebut terasa relevan bagi Ponorogo, daerah yang dikenal dengan identitas Kota Budaya dan Kota Santri. Tradisi kepesantrenan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan hanya melalui pendidikan agama, tetapi juga melalui pembentukan karakter, pengembangan generasi muda, serta pemeliharaan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Rangkaian Hari Santri tahun ini pun diawali dengan kegiatan yang dekat dengan akar tradisi tersebut. Di Pendopo Kabupaten Ponorogo, Khotmil Qur’an dan Sima’an disiapkan sebagai pembuka rangkaian peringatan, yang akan ditutup dengan doa Khotmil Qur’an sebagai penanda dimulainya Hari Santri 2026 di Ponorogo.

Kegiatan ini dirancang melibatkan pegawai OPD dan kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Ponorogo. Doa Khotmil Qur’an juga direncanakan terhubung melalui Zoom dengan 21 kecamatan, sehingga kebersamaan dalam mengawali Hari Santri dapat dirasakan secara lebih luas.

Pembukaan melalui Khotmil Qur’an mengandung pesan bahwa penguatan negeri berangkat dari nilai-nilai spiritual, tradisi keilmuan, dan pengabdian. Nilai tersebut tidak berhenti dalam ruang ibadah, tetapi diharapkan turut hadir dalam kehidupan sosial, pelayanan publik, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dari lantunan ayat suci Al-Qur’an hingga upacara kebangsaan di Aloon-Aloon, rangkaian ini mempertemukan dua dimensi yang lekat dengan kehidupan santri: religiusitas dan nasionalisme.

Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas

Hari Santri 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema ini membawa pesan bahwa kiprah santri senantiasa relevan dari masa ke masa. Jika dahulu para ulama dan santri mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan, kini pengabdian tersebut menemukan bentuk baru dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, serta pengamalan nilai agama dan kebangsaan.

Menguatkan negeri berarti menghadirkan santri sebagai bagian dari solusi atas berbagai tantangan bangsa. Pesantren diharapkan terus melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman spiritual dan keluasan ilmu, tetapi juga karakter yang kuat, produktivitas, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sementara itu, frasa Menuju Indonesia Emas mengarahkan perhatian pada masa depan Indonesia pada 2045. Generasi yang akan menentukan arah bangsa tersebut perlu dipersiapkan sejak sekarang melalui pendidikan, penguatan karakter, dan kesempatan untuk berkontribusi di berbagai bidang.

Dalam kerangka itu, pesantren memiliki peran strategis. Tradisi keilmuan yang berakar, nilai-nilai keislaman yang membawa rahmat bagi semesta, serta kedekatan dengan kehidupan masyarakat merupakan modal penting untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Eko menegaskan bahwa semangat tersebut ingin dihadirkan dalam rangkaian Hari Santri 2026 Kabupaten Ponorogo.

“Kami ingin semangat Hari Santri benar-benar hidup dalam keseharian. Santri harus memiliki bekal keilmuan yang kuat, karakter yang kokoh, dan keberanian untuk berinovasi. Tradisi pesantren tetap menjadi fondasi, sementara penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemandirian ekonomi menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan masa depan,” tegas Eko di sela-sela koordinasi bersama panitia inti.

Santri Gumregah, Membuka Ruang Kolaborasi dan Kemandirian

Semangat Hari Santri di Ponorogo tidak berhenti pada Khotmil Qur’an dan upacara 22 Oktober. Panitia juga menyiapkan rangkaian kegiatan lanjutan pada pertengahan November yang dikemas dalam tajuk Santri Gumregah.

Salah satu agenda yang disiapkan ialah PASPOR, singkatan dari Pasar Santri Ponorogo. Melalui kegiatan ini, panitia berencana membuka stan bazar bagi pelaku UMKM pondok pesantren dan berbagai entitas kepesantrenan.

PASPOR diharapkan menjadi ruang bagi pesantren untuk memperkenalkan produk dan usaha yang dikembangkan, memperluas jangkauan pemasaran, serta membangun jejaring ekonomi. Dengan demikian, peringatan Hari Santri juga dapat menjadi kesempatan untuk memperlihatkan potensi pesantren dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Selain bazar, Santri Gumregah akan diramaikan sejumlah perlombaan yang detail pelaksanaannya akan diumumkan lebih lanjut oleh panitia. Rangkaian ini diharapkan membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi santri dan generasi muda, sekaligus menghadirkan perayaan yang kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan.

Sebelumnya, dalam rapat koordinasi persiapan Hari Santri 2026, Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita menekankan pentingnya menghadirkan peringatan yang unik, kreatif, dan dekat dengan generasi muda. Ia juga mendorong pembentukan kepanitiaan besar yang inklusif, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan mengedepankan regenerasi kepemimpinan.

Arahan tersebut menjadi salah satu pijakan untuk menghadirkan Hari Santri yang tidak hanya khidmat, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman. Tradisi pesantren tetap dirawat, sementara ruang kreativitas, partisipasi generasi muda, dan pemberdayaan ekonomi terus dibuka.

Hari Santri Milik Bersama, Saatnya Semua Elemen Ikut Mangayubagyo

Menjelang pelaksanaan upacara dan rangkaian kegiatan berikutnya, Eko mengajak seluruh masyarakat Ponorogo untuk bersama-sama menyambut dan menyukseskan Hari Santri 2026.

Ajakan tersebut ditujukan kepada seluruh elemen santri, mulai dari para pengasuh dan pengurus pondok pesantren, ustaz dan ustazah, para santri, hingga alumni pesantren. Namun, menurutnya, semangat Hari Santri tidak semestinya dibatasi hanya pada mereka yang berada dalam lingkungan pondok pesantren formal.

Santri juga tumbuh dan belajar di lingkungan masjid, musala, majelis taklim, serta ruang-ruang pendidikan keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Mereka merupakan bagian dari ekosistem keilmuan dan religiusitas yang turut membentuk karakter masyarakat Ponorogo.

Karena itu, Hari Santri perlu menjadi momentum bersama untuk merawat tradisi keilmuan, menguatkan kehidupan beragama, serta mempererat hubungan antara pesantren, masjid, musala, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat luas.

“Kami mengajak seluruh masyarakat dan semua entitas santri di Ponorogo untuk bersama-sama mangayubagyo Hari Santri 2026. Bukan hanya pengasuh, pengurus, ustaz-ustazah, santri, dan alumni pondok pesantren, tetapi juga saudara-saudara kita yang tumbuh dan belajar di masjid, musala, serta lingkungan pendidikan keagamaan di tengah masyarakat. Mari kita jadikan Hari Santri sebagai momentum untuk menguatkan keilmuan, merawat religiusitas, menjaga persatuan, dan membangun kontribusi nyata bagi bangsa,” ajak Eko.

Ia berharap semangat Hari Santri dapat dirasakan lebih luas, melampaui batas kelembagaan dan latar belakang organisasi. Sebab, kekuatan tradisi santri tidak hanya terletak pada besarnya perayaan, tetapi juga pada nilai ilmu, akhlak, kebersamaan, dan pengabdian yang terus hidup dalam masyarakat.

Melalui upacara pada 22 Oktober dan rangkaian Santri Gumregah pada pertengahan November, Hari Santri 2026 di Ponorogo diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi dan inovasi, spiritualitas dan kebangsaan, serta semangat kebersamaan dan kemandirian.

Pada akhirnya, Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas bukan sekadar tema peringatan. Ia merupakan ajakan untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan para ulama dan pesantren terus tumbuh menjadi ilmu yang bermanfaat, karakter yang kuat, karya yang produktif, dan pengabdian yang dirasakan oleh masyarakat luas.

Bagikan

Berita terkait

Berita Jaringan