Dari Kader untuk Kemanusiaan, Ansor Ponorogo Perkuat BASADA dan BAGANA

ANSORPONOROGO – Militansi organisasi perlu berjalan beriringan dengan keterampilan dan kompetensi. Semangat itulah yang dibawa PC GP Ansor Ponorogo melalui penguatan kapasitas kader BASADA dan BAGANA bersama RSU Darmayu Ponorogo.
Program bertajuk Ansor University dan RSU Darmayu: Dari Kader untuk Kemanusiaan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 8 November 2026. Kegiatan dipusatkan di Aula Lantai 6 RSU Darmayu Ponorogo.
Mengusung tema Building Humanitarian Resilience: Penguatan Kapasitas BASADA dan BAGANA dalam Disaster Response and Emergency Medical Assistance, kegiatan ini menargetkan 85 peserta dari lingkungan GP Ansor Ponorogo.
Ketua PC GP Ansor Ponorogo, Sahabat Fakaruzzaman, mengatakan penguatan kompetensi merupakan bagian penting dari kaderisasi. Menurutnya, kader tidak cukup hanya memiliki militansi dan loyalitas organisasi.
"Kaderisasi tidak cukup hanya membangun militansi dan loyalitas organisasi, tetapi juga harus meningkatkan keterampilan dan kompetensi yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan inisiatif Direktur Ansor University Ponorogo, Sahabat dr. H. Fahmi Salafuddin, Sp.B. PC GP Ansor Ponorogo menyambut gagasan tersebut sebagai ruang pengembangan kapasitas kader.
Ansor University, Ruang Transformasi Kader
Bagi PC GP Ansor Ponorogo, Ansor University diharapkan berkembang melampaui penyelenggaraan seminar dan pelatihan. Lembaga ini diarahkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus penghubung kader dengan dunia profesional.
Direktur Ansor University Ponorogo, dr. Fahmi Salafuddin, Sp.B, menyebut gagasan besarnya adalah membangun ekosistem pembelajaran atau learning ecosystem.
Ia ingin Ansor bergerak dari organisasi berbasis gerakan menuju organisasi yang juga kuat dalam pengetahuan.
"Saya ingin Ansor University menjadi ruang transformasi kader, dari sekadar movement-based organization menuju knowledge-based organization. Artinya, Ansor tidak hanya kuat dalam gerakan dan militansi organisasi, tetapi juga kuat dalam kapasitas intelektual, kompetensi profesional, serta kemampuan menjawab persoalan masyarakat." jelasnya.
Menurut Fahmi, Banser memiliki modal sosial berupa militansi, kedisiplinan, solidaritas, dan kesiapsiagaan. Namun, modal tersebut perlu diperkuat dengan kemampuan teknis.
Dalam situasi kegawatdaruratan, semangat menolong saja tidak cukup. Relawan membutuhkan pengetahuan mengenai pertolongan pertama, evakuasi aman, dan prosedur penanganan yang tepat.
"Jangan sampai niat menolong justru menimbulkan risiko baru karena kurangnya pemahaman," tegasnya.
Karena itu, penguatan BASADA dan BAGANA menjadi salah satu fokus pengembangan kapasitas kader melalui kolaborasi tersebut.
BASADA dan BAGANA Dipersiapkan untuk Misi Kemanusiaan
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan kesehatan, pertolongan darurat, dan respons kebencanaan.
Materi yang direncanakan mencakup pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), Bantuan Hidup Dasar (BHD), penatalaksanaan evakuasi trauma, serta penanganan tanggap bencana.
BPBD Kabupaten Ponorogo dijadwalkan menyampaikan materi kebencanaan dan water rescue. Sementara itu, Koordinator Tim PKH Ponorogo dijadwalkan memberikan sosialisasi digitalisasi perlindungan sosial.
Selain meningkatkan keterampilan, Fakaruzzaman ingin memperluas keanggotaan BASADA dan BAGANA. Ia juga mendorong kader Ansor berperan sebagai agen perlindungan sosial di lingkungan masing-masing.
Kader diharapkan mampu membantu mengenali persoalan sosial masyarakat. Selanjutnya, mereka dapat menghubungkan warga dengan program perlindungan sosial sesuai kewenangan dan mekanisme yang berlaku.
Fakaruzzaman juga menekankan pentingnya koordinasi dengan BPBD, rumah sakit, dan lembaga terkait. Menurutnya, pelayanan kemanusiaan membutuhkan kerja sama lintas lembaga.
Tidak Berhenti pada Pelatihan
Bagi Ansor University, kegiatan satu hari tersebut bukan tujuan akhir. Penguatan kapasitas harus berlanjut melalui pembinaan, simulasi, evaluasi, dan transfer pengetahuan.
Fahmi mengusulkan pembentukan kader terlatih sebagai community-based first responders atau penolong pertama berbasis komunitas.
Kader yang telah mengikuti pelatihan juga diharapkan membagikan pengetahuannya. Transfer keterampilan tersebut dapat dilakukan hingga tingkat PAC dan ranting.
"Jadi, kita tidak hanya mencetak peserta pelatihan, tetapi membangun kader yang mampu menjadi agen pengetahuan dan agen perubahan di lingkungannya," ungkapnya.
Fakaruzzaman berharap peluncuran Ansor University menjadi awal gerakan peningkatan kualitas kader secara berkelanjutan.
Ia mengajak kader Ansor dan Banser terus belajar. Identitas organisasi, menurutnya, perlu disertai kemampuan untuk memberikan kontribusi nyata.
"Jangan hanya bangga menjadi kader, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," pesannya.
Melalui kolaborasi ini, PC GP Ansor Ponorogo ingin memperkuat peran kader dalam pelayanan kesehatan, perlindungan sosial, dan penanggulangan bencana.
Baca juga: Silaturahmi Ansor Ponorogo dengan Kapolres Baru, Perkuat Sinergi dan Kolaborasi untuk Masyarakat
Baca juga: Dua Bulan Kesulitan Air, Ansor Ponorogo Salurkan Bantuan untuk Warga Tranjang, Siman




