Lewat Ansor University Ponorogo, Dokter Fahmi Ingin Lahirkan Kader Ansor yang Kompeten

ANSORPONOROGO – Kaderisasi organisasi tidak cukup hanya membentuk militansi, loyalitas, dan kesiapan bergerak. Kader juga membutuhkan pengetahuan, keterampilan profesional, serta kemampuan menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Gagasan inilah yang ingin dibangun Sahabat dr. H. Fahmi Salafuddin, Sp.B melalui Ansor University.
Bagi dr. Fahmi, Ansor University tidak semestinya berhenti sebagai penyelenggara pelatihan atau seminar. Lebih dari itu, Ansor University perlu dikembangkan menjadi ekosistem pembelajaran yang mampu mempertemukan kader dengan pengetahuan, pengalaman profesional, dan berbagai peluang pengembangan kapasitas.
Gagasan tersebut berangkat dari pandangan bahwa Gerakan Pemuda Ansor memiliki modal sosial yang kuat. Militansi, kedisiplinan, solidaritas, dan kesiapsiagaan kader menjadi kekuatan organisasi. Namun, modal tersebut perlu dilengkapi dengan kompetensi teknis agar semangat pengabdian dapat diwujudkan melalui kerja yang tepat dan profesional.
“Saya ingin Ansor University menjadi ruang transformasi kader, dari sekadar movement-based organization menuju knowledge-based organization. Artinya, Ansor tidak hanya kuat dalam gerakan dan militansi organisasi, tetapi juga kuat dalam kapasitas intelektual, kompetensi profesional, serta kemampuan menjawab persoalan masyarakat.” demikian gagasan yang disampaikan dr. Fahmi dalam menjelaskan arah pengembangan lembaga tersebut.
Sebagai Direktur Ansor University Ponorogo sekaligus Bendahara PC GP Ansor Ponorogo, ia ingin mendorong perubahan cara pandang terhadap pengembangan kader. Ansor tidak hanya menjadi organisasi yang kuat dalam gerakan, tetapi juga berkembang sebagai organisasi yang bertumpu pada pengetahuan.
Ansor University Memiliki Landasan Organisasi
Gagasan pengembangan Ansor University bukan semata inisiatif kegiatan di tingkat daerah. Secara kelembagaan, Ansor University telah memiliki landasan dalam keputusan organisasi Gerakan Pemuda Ansor.
Pembentukannya didasarkan pada Keputusan Konferensi Besar Nomor 20/KONBES-XXVII/X/2024. Dalam struktur organisasi, Ansor University berkedudukan sebagai badan atau perangkat departementasi yang menjalankan kebijakan Pimpinan Pusat GP Ansor di luar bidang keagamaan.
Pengaturan lebih lanjut tertuang dalam Peraturan Organisasi tentang Badan Ansor University Nomor 2986/PP/SK-01/V/2025.
Pasal 5 peraturan tersebut menjelaskan bahwa Ansor University berfungsi sebagai entitas pendidikan dan pelatihan dengan pendekatan strategis untuk mendukung tujuan organisasi. Fungsi itu dijalankan melalui pengembangan pembelajaran dan pengetahuan, peningkatan kinerja kader maupun publik, serta pengembangan karier profesional.
Peraturan tersebut juga memberikan ruang bagi Ansor University untuk meningkatkan kompetensi kader melalui pendidikan dan pelatihan yang selektif serta terarah. Selain itu, lembaga ini bertugas membangun kolaborasi dengan para pemangku kepentingan dalam pengembangan kapasitas teknis, manajerial, sosial budaya, dan sumber daya manusia.
Pengembangan inovasi untuk menciptakan keunggulan kompetitif kader dan organisasi juga menjadi bagian dari mandatnya. Tidak hanya menyasar internal organisasi, Ansor University turut memiliki tanggung jawab mengembangkan kompetensi masyarakat.
Landasan organisasi tersebut menjadi pijakan bagi Fahmi untuk menerjemahkan fungsi Ansor University ke dalam program yang lebih konkret di Ponorogo.

Mengubah Militansi Menjadi Kompetensi
Menurut dr. Fahmi, kader Ansor dan Banser memiliki modal pengabdian yang tidak sedikit. Kesiapan hadir dalam berbagai situasi, kedisiplinan, solidaritas, serta semangat membantu masyarakat merupakan kekuatan yang perlu terus dijaga.
Namun, dalam situasi tertentu, niat baik dan kecepatan bertindak saja tidak selalu cukup.
Dalam penanganan keadaan darurat, misalnya, relawan membutuhkan pengetahuan tentang pertolongan pertama, pengenalan kondisi kegawatdaruratan, prosedur evakuasi yang aman, hingga koordinasi penanganan bencana.
Tanpa pengetahuan dan keterampilan yang memadai, tindakan yang didorong oleh semangat membantu justru berisiko menimbulkan persoalan baru.
Karena itu, Fahmi yang berprofesi sebagai Dokter Bedah itu memandang peningkatan kapasitas sebagai kebutuhan penting dalam pengembangan kader. Semangat kerelawanan harus berjalan beriringan dengan kemampuan teknis dan pemahaman prosedur.
"Dalam perspektif kesehatan dan kebencanaan, kecepatan bertindak saja tidak cukup. Harus ada pengetahuan, keterampilan, dan prosedur yang benar. Jangan sampai niat menolong justru menimbulkan risiko baru karena kurangnya pemahaman. Sebagai dokter bedah, saya memahami bahwa dalam situasi kegawatdaruratan, every second matters, setiap detik sangat berarti." menjadi pesan yang menggambarkan arah pemikiran tersebut.
Bagi dr. Fahmi, identitas organisasi seharusnya tidak hanya terlihat dari seragam, atribut, atau posisi struktural. Identitas itu perlu tercermin melalui kemampuan kader dalam memberikan kontribusi nyata.
Kader yang memiliki pengetahuan dan keterampilan akan lebih siap mengambil peran, baik dalam kegiatan organisasi maupun ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Baca juga: Dari Kader untuk Kemanusiaan, Ansor Ponorogo Perkuat BASADA dan BAGANA
RSU Darmayu Menjadi Mitra Penguatan Kapasitas
Gagasan tersebut mulai diterjemahkan melalui kolaborasi Ansor University dengan RSU Darmayu Ponorogo. Salah satu bentuk implementasinya adalah kegiatan bertajuk “Ansor University dan RSU Darmayu: Dari Kader untuk Kemanusiaan” dengan tema “Building Humanitarian Resilience: Penguatan Kapasitas BASADA dan BAGANA dalam Disaster Response dan Emergency Medical Assistance.”
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 8 November 2026, di Aula Lantai 6 RSU Darmayu Ponorogo ini menyasar 85 peserta dari 21 Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-Kabupaten Ponorogo.
Kolaborasi dengan RSU Darmayu menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan pembelajaran yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan profesional. Melalui kegiatan ini, kader diarahkan untuk memperoleh penguatan kapasitas dalam bidang kesehatan, pertolongan darurat, dan penanganan kebencanaan.
Bagi dr. Fahmi, kerja sama dengan rumah sakit, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan lembaga kebencanaan merupakan bagian dari cara membangun ekosistem pembelajaran. Ansor University tidak harus mengerjakan semuanya sendiri, tetapi perlu menjadi penghubung antara kader dan sumber pengetahuan maupun keahlian yang relevan.
Dengan demikian, kader tidak hanya mendapatkan materi di ruang pelatihan, tetapi juga memiliki akses terhadap pengalaman dan standar kerja dari para profesional.
Tidak Berhenti pada Pelatihan
Satu hal yang ditekankan dr. Fahmi adalah pentingnya keberlanjutan setelah kegiatan pelatihan selesai. Menurutnya, peningkatan kapasitas tidak boleh berhenti pada kehadiran peserta, penyampaian materi, atau sertifikat kegiatan.
Ia membayangkan adanya tahapan pengembangan lanjutan, mulai dari pelatihan tingkat lanjut, simulasi, evaluasi berkala, hingga penguatan jejaring dengan rumah sakit, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan lembaga kebencanaan.
Kader yang telah mendapatkan pelatihan juga diharapkan dapat membagikan pengetahuannya kepada kader lain. Proses transfer pengetahuan tersebut perlu menjangkau struktur organisasi hingga tingkat PAC dan ranting.
Salah satu arah yang ingin dibangun adalah terbentuknya community-based first responders, yakni kader dan relawan berbasis masyarakat yang memiliki kesiapan serta kompetensi dasar dalam merespons keadaan darurat.
Pendekatan ini membuat pengembangan Ansor University tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan individu. Lebih jauh, pengetahuan yang diperoleh kader diharapkan dapat menjadi kekuatan kolektif yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Kader yang Hadir dengan Pengetahuan dan Kemampuan
Gagasan dr. Fahmi tentang Ansor University pada akhirnya bertumpu pada satu tujuan: membangun kader yang memiliki karakter, pengetahuan, keterampilan profesional, dan daya saing.
Ia ingin Ansor University menjadi ruang yang mempertemukan semangat pengabdian dengan proses belajar yang berkelanjutan. Kader tidak cukup hanya dikenal karena militansi dan identitas organisasinya, tetapi juga karena kemampuan serta kontribusi yang diberikan.
Transformasi menuju organisasi berbasis pengetahuan tentu membutuhkan proses. Diperlukan program yang terarah, kemitraan yang kuat, pengembangan kapasitas berkelanjutan, dan kemauan untuk terus belajar.
Melalui Ansor University, dr. Fahmi ingin memastikan bahwa kaderisasi tidak hanya menghasilkan kader yang siap bergerak, tetapi juga kader yang memahami apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan untuk siapa pengabdian itu diberikan.
Pada titik itulah, keberhasilan pengembangan kader tidak semata diukur dari seberapa banyak kegiatan terlaksana atau seberapa kuat identitas organisasi ditampilkan. Ukurannya adalah seberapa besar pengetahuan dan kemampuan kader dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Baca juga: Silaturahmi Ansor Ponorogo dengan Kapolres Baru, Perkuat Sinergi dan Kolaborasi untuk Masyarakat




