Hari Santri 2026 Hidupkan Napak Tilas Sejarah Islam di Desa Wisata Religi Tegalsari

ANSORPONOROGO - Kawasan Desa wisata religi Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, ramai dikunjungi peziarah menjelang hingga setelah puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026. Sejak pertengahan Oktober, arus kunjungan ke Masjid Jami’ Tegalsari, makam Kiai Ageng Muhammad Besari, hingga Ndalem Ageng terus terlihat ramai. Beragam kendaraan, mulai dari bus besar, bus kecil, kereta mini, hingga mobil pribadi, tampak silih berganti memasuki kawasan tersebut hingga Minggu (25/10/2026).
Puncak kunjungan bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis (22/10/2026). Rombongan peziarah dari berbagai daerah berdatangan untuk berziarah, berdoa, sekaligus mengenal lebih dekat sejarah Tegalsari yang memiliki peran penting dalam perkembangan dakwah Islam dan pendidikan pesantren di Nusantara.
Salah satu warga Tegalsari, Haikal, mengaku turut menemani saudaranya yang datang untuk berziarah. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenalkan sejumlah lokasi bersejarah di Tegalsari.
“Kebetulan saya juga bertemu saudara yang katanya mau ke Tegalsari untuk ziarah. Ya, saya antarkan ke beberapa lokasi yang sarat akan sejarah, seperti masjid, makam, dan Ndalem Kyai Ageng Muhammad Besari, yang menjadi jejak perjalanan santri Tegalsari pada masa dahulu,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Adi, peziarah asal Kecamatan Jambon, yang datang bersama rombongan untuk memanfaatkan momentum Hari Santri sebagai kesempatan melakukan napak tilas sejarah sekaligus berziarah ke makam para ulama di Ponorogo.
“Kebetulan saya bersama rombongan, ya mumpung ada acara Hari Santri kita gunakan napak tilas sekaligus berziarah ke makam para alim ulama Ponorogo, salah satunya di Tegalsari, Simbah Kyai Ageng Muhammad Besari,” ungkapnya.
Tegalsari dan Jaringan Pesantren
Tradisi keilmuan yang berkembang di Tegalsari memiliki keterkaitan dengan perjalanan jaringan pesantren di berbagai daerah. Sejumlah pesantren yang menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam di Jawa antara lain Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Pondok Tremas di Pacitan, Pondok Pesantren Al-Falah Ploso dan Lirboyo di Kediri, serta Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Jejak sejarah dan jaringan keilmuan pesantren tersebut menjadikan Tegalsari sebagai salah satu tempat penting untuk mengenal perjalanan panjang pendidikan Islam di Nusantara.
Kunjungan ke Tegalsari tidak hanya menjadi kesempatan untuk berziarah, tetapi juga mengenal warisan sejarah dan perjalanan pendidikan Islam yang berkembang di kawasan tersebut. Masjid Jami’ Tegalsari, makam Kiai Ageng Muhammad Besari, dan Ndalem Ageng menjadi bagian penting dari jejak sejarah yang masih dapat dikenali hingga kini.
Ramainya kunjungan pada momentum Hari Santri menunjukkan bahwa Tegalsari tetap memiliki daya tarik sebagai tujuan wisata religi. Selain menjadi tempat berdoa dan berziarah, kawasan ini juga menjadi ruang pembelajaran sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal perjuangan ulama dan tradisi pesantren.
Semarak Hari Santri 2026 di Tegalsari menjadi pengingat bahwa warisan sejarah dan tradisi keagamaan perlu terus dijaga serta dikenalkan kepada generasi berikutnya. Tegalsari bukan sekadar tujuan wisata religi, melainkan ruang untuk merawat sejarah, menghidupkan tradisi, dan meneguhkan semangat kesantrian.
Baca juga: Hari Santri 2026 Ponorogo, Dwi Agus Prayitno Tekankan Semua Adalah Santri NKRI
Baca juga: Tak Berhenti di Upacara, Hari Santri 2026 Ponorogo Siapkan Agenda Lanjutan Pada Bulan November




