Ngecas Ati Biar Militansi Tak Goyah, Ansor Sampung Gelar Majelis Dzikir dan Sholawat

PONOROGO – Kader Ansor membutuhkan penguatan spiritual agar militansi dan semangat pengabdiannya tetap terjaga.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan dalam kegiatan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor. Kegiatan ini diselenggarakan PAC GP Ansor Sampung dalam rangka memperingati Hari Santri 2026.
Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB hingga selesai, bertempat di Masjid Al-Barokah, Desa Nglurup, Kecamatan Sampung, Ponorogo.
Wahyu Purnomo menyebut, aktivitas organisasi perlu diimbangi dengan penguatan kehidupan batin. Menurutnya, kader membutuhkan ruang spiritual untuk menjaga keteguhan dalam berkhidmah.
"Karena kader Ansor itu butuh ngecas hati. Organisasi menguatkan fisik, dzikir menguatkan batin, biar militansinya tidak mudah goyah," ungkap Wahyu.
Militansi Lapangan Harus Diimbangi Kekuatan Hati
Menurut Wahyu, militansi Ansor tidak hanya diwujudkan melalui gerakan dan pengabdian di lapangan. Penguatan spiritual juga menjadi bagian penting dalam menjaga semangat perjuangan kader.
Ia menggambarkan hubungan Banser dan Rijalul Ansor melalui pendekatan yang saling melengkapi.
"Kalau Banser militansi di lapangan, Rijalul Ansor militansi di dalam hati. Dzikir melatih istiqomah, sholawat melatih cinta, biar khidmahnya kuat dan tidak mudah goyah," tuturnya.
Ia juga menilai, kaderisasi organisasi saja belum cukup membentuk kader yang utuh. Pembinaan spiritual perlu berjalan beriringan dengan proses kaderisasi.
"Kaderisasi membentuk otak dan otot, spiritual membentuk hati. Kader pintar tapi tanpa hati mudah pecah, kader dengan hati yang diisi akan tetap setia," jelasnya.
Menjadi Ruang Jeda bagi Generasi Muda
Di tengah perkembangan teknologi dan kehidupan yang semakin cepat, generasi muda menghadapi berbagai tantangan. Majelis dzikir dan sholawat diharapkan menjadi ruang untuk menenangkan batin.
Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana menjaga kedekatan kader dengan tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah.
"Anak muda sekarang serba cepat dan cemas. Majelis ini menjadi ruang jeda untuk menenangkan batin dan menjaga sanad Aswaja kita tetap nyambung dengan ulama, bukan putus oleh HP," ungkap Wahyu.
Terbuka untuk Kader dan Masyarakat
Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor juga diharapkan menjadi ruang kebersamaan masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi kader Ansor dan Banser.
Wahyu menegaskan, masyarakat umum, ulama, dan kalangan santri juga perlu mendapat ruang keterlibatan.
"Pintunya harus terbuka. Jantungnya Ansor-Banser, tapi jamaahnya untuk semua. Biar masyarakat melihat Ansor bukan hanya tegas di lapangan, tapi juga lembut dalam sholawat," katanya.
Menurutnya, keterbukaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan Ansor dengan masyarakat. Tradisi dzikir dan sholawat dapat menjadi jembatan silaturahmi.
Dari Seremonial Menuju Tradisi Berkelanjutan
Wahyu berharap, kegiatan spiritual tidak berhenti sebagai agenda seremonial peringatan Hari Santri. Ia mendorong kegiatan serupa tumbuh menjadi tradisi organisasi.
Menurutnya, keberlanjutan membutuhkan konsistensi, pengelolaan, dan keterlibatan kader secara bersama.
"Jangan dibuat besar setahun sekali. Dibuat kecil tapi rutin, keliling ranting, dan ada tim tetap yang merawat. Kalau sudah istiqomah, dia akan jadi tradisi, bukan sekadar seremonial," tegasnya.
Gagasan tersebut membuka peluang pengembangan kegiatan Rijalul Ansor hingga tingkat ranting. Dengan demikian, pembinaan spiritual dapat berlangsung secara rutin dan berkelanjutan.
Menutup pesannya, Wahyu mengingatkan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan pengabdian melalui Ansor.
"Satu pesan: Ikhlas. Kita ber-Ansor bukan mencari pangkat atau nama, tapi khidmah karena cinta Rasulullah dan ulama. Kalau ikhlas sudah ada, semuanya akan ngikut," pungkasnya.
Melalui majelis ini, PAC GP Ansor Sampung ingin memperkuat tradisi keagamaan dan persaudaraan kader. Momentum Hari Santri diharapkan menjadi pengingat pentingnya keseimbangan gerakan organisasi dan pembinaan spiritual.
Sebab, militansi membutuhkan keteguhan hati. Pengabdian membutuhkan keikhlasan, sedangkan perjuangan membutuhkan kecintaan kepada Rasulullah dan ulama.
Baca juga: PC Rijalul Ansor Ponorogo Matangkan Persiapan Pengukuhan, Gus Rizmi Nyatakan Siap Hadir
Baca juga: Perkuat Konsolidasi dan Kaderisasi, PC MDS Rijalul Ansor Ponorogo Bidik 1.000 Kader




