Ansor University Ponorogo Bangun Ekosistem Pembelajaran, Kader BASADA dan BAGANA Dibekali Keterampilan Kemanusiaan

PONOROGO – Pengabdian kemanusiaan membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian. Pengetahuan dan keterampilan yang tepat menjadi bekal penting agar pertolongan yang diberikan benar-benar membantu dan tidak justru memperburuk kondisi korban.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ponorogo melalui Ansor University berkolaborasi dengan Rumah Sakit Umum (RSU) Darmayu menggelar penguatan kapasitas kader kemanusiaan, Minggu (8/11/2026).
Sebanyak 60 kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dari berbagai Pimpinan Anak Cabang (PAC) mengikuti kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB di Aula Lantai 6 RSU Darmayu Ponorogo. Peserta secara khusus berasal dari Satuan Khusus (Satsus) Banser Husada (BASADA) dan Barisan Ansor Serbaguna Tanggap Bencana (BAGANA).
Mengusung tajuk “Ansor University dan RSU Darmayu: Dari Kader untuk Kemanusiaan”, kegiatan ini mengambil tema “Building Humanitarian Resilience: Penguatan Kapasitas BASADA dan BAGANA dalam Disaster Response dan Emergency Medical Assistance.”
Hadir sebagai narasumber Hadi Susanto (BPBD Ponorogo), Kademin (Korkab PKH/Perlinsos), dr. Nanda Ayu Prastiwi Nugraha.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Direktur RSU Darmayu, dr. Kusuma Luthfiana, Ketua PC GP Ansor Ponorogo, Direktur Ansor University Ponorogo, Kasatkorcab Banser Ponorogo Yoyok Heri Saputro, Ketua PC Rijalul Ansor, serta unsur Satsus BAGANA, BASADA, Provost, dan Balantas.
Ketua PC GP Ansor Ponorogo, Fakaruzzaman Hidayatullah, menyampaikan bahwa potensi kebencanaan menjadi salah satu perhatian organisasi. Karena itu, peningkatan kapasitas kader perlu berjalan beriringan dengan penguatan sinergi lintas sektor.
Menurutnya, keterlibatan BPBD, unsur Dinas Sosial, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi modal penting dalam membangun kesiapsiagaan. Terlebih, sejumlah kader Banser juga telah memiliki keterlibatan dalam penanganan kebencanaan di BPBD Ponorogo.
Ia mengingatkan bahwa Ansor dan Banser tidak boleh melupakan esensi pengabdiannya kepada masyarakat.
"Kader Ansor dan Banser harus menjadi agen perlindungan, membantu, mengamankan, dan siap dadi jujukan sambatan," ungkapnya.
Tiga Gagasan Ansor University Ponorogo
Sementara itu, Direktur Ansor University Ponorogo, dr. M. Fahmi Salafuddin, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Ansor University bukanlah lembaga yang dibentuk untuk mendirikan perguruan tinggi. Sebaliknya, badan ini dirancang sebagai ruang pengembangan kapasitas, pengkajian ilmiah, sekaligus inkubasi gagasan bagi kader.
Menurut Fahmi, Ansor University lahir dari kesadaran bahwa kader membutuhkan kompetensi yang lebih beragam. Penguasaan ilmu keagamaan perlu dilengkapi keterampilan profesional yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
"Kabeh wis pinter ngaji, pinter dalil. Sing pinter nyuntik wis jarang," ujarnya, disambut suasana hangat peserta.
Ia menjelaskan, Ansor University diarahkan untuk membangun learning ecosystem atau ekosistem pembelajaran. Pengembangannya bertumpu pada tiga tahapan, yakni University of Think, University of Action, dan University of Impact.
Melalui konsep tersebut, gagasan diharapkan tidak berhenti sebagai pemikiran. Kader didorong menerjemahkannya menjadi tindakan nyata hingga menghasilkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.
Fahmi menegaskan, melalui Ansor University, PC GP Ansor Ponorogo ingin terus menghadirkan ruang pengembangan bagi kader, terutama dalam peningkatan kapasitas intelektual, profesionalitas, dan kemandirian ekonomi.
"Tujuannya agar kader Ansor dan Banser Ponorogo selesai dengan dirinya. Ketika dirinya sudah selesai, memberikan manfaat kepada masyarakat akan lebih mudah," jelasnya.
Dalam konteks penguatan BASADA dan BAGANA, Fahmi menekankan pentingnya pemahaman mengenai penanganan medis dasar dan asesmen awal dalam situasi darurat.
Ia mengingatkan bahwa pertolongan yang dilakukan tanpa pengetahuan memadai justru berpotensi memperburuk kondisi korban. Pada kasus kecelakaan dengan benturan keras, misalnya, tindakan yang keliru terhadap korban dengan dugaan cedera tulang belakang dapat menimbulkan risiko serius.
Karena itu, relawan perlu memahami mekanisme cedera, mengenali kondisi korban, serta mengetahui prosedur pertolongan awal sesuai situasi yang dihadapi.
"Every time matters. Setiap waktu berharga," tegasnya.
Lebih jauh, Fahmi berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada forum pelatihan. Kader yang mengikuti kegiatan diharapkan dapat membagikan kembali ilmu tersebut kepada satuan maupun jajaran di wilayah masing-masing.
Dengan demikian, peningkatan kapasitas tidak hanya dirasakan oleh peserta yang hadir, tetapi juga dapat berkembang menjadi pengetahuan bersama di lingkungan Banser Ponorogo.
Melalui kolaborasi dengan RSU Darmayu dan berbagai pemangku kepentingan, Ansor Ponorogo berupaya membangun kader kemanusiaan yang tidak hanya memiliki kepedulian sosial, tetapi juga dibekali kompetensi yang memadai.
Sebab, pengabdian kepada masyarakat membutuhkan kepedulian sekaligus kemampuan. Menjadi bagian dari organisasi bukanlah tujuan akhir. Kader harus terus belajar dan mengasah keterampilan agar kehadirannya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Lewat Ansor University Ponorogo, Dokter Fahmi Ingin Lahirkan Kader Ansor yang Kompeten
Baca juga: Dari Kader untuk Kemanusiaan, Ansor Ponorogo Perkuat BASADA dan BAGANA




