Tabayyun di Era Digital: Jangan Asal Percaya dan Sebarkan Berita

Oleh: Wahyu Septrianto, S.Ag., M.Ag.
Anggota LD PCNU Kabupaten Ponorogo - Anggota PC Rijalul Ansor Ponorogo
Di era digital, informasi hadir tanpa henti dalam kehidupan manusia. Berita dapat diakses melalui media sosial, grup WhatsApp, portal berita, hingga percakapan sehari-hari. Kemudahan ini membawa banyak manfaat, tetapi sekaligus menghadirkan persoalan serius: penyebaran berita bohong, fitnah, provokasi, dan informasi yang belum teruji kebenarannya.

Tidak sedikit orang yang langsung mempercayai, bahkan menyebarkan informasi hanya karena judulnya menarik atau isinya sesuai dengan pandangan pribadi. Padahal, informasi yang belum jelas kebenarannya dapat memicu kesalahpahaman, merusak hubungan sosial, bahkan menimbulkan permusuhan.
Islam memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana seseorang seharusnya menyikapi berita. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Ayat tersebut mengajarkan prinsip tabayyun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai, mengambil sikap, atau menyebarkannya.
Dalam kehidupan digital, tabayyun dapat diwujudkan melalui langkah sederhana. Memeriksa sumber berita, membaca informasi secara utuh, membandingkan pemberitaan dari sumber terpercaya, serta tidak terburu-buru memberikan komentar merupakan bagian dari sikap tersebut.
Rasulullah saw. juga mengingatkan:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (HR. Muslim, dalam Mukadimah Shahih Muslim).
Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa tidak semua informasi yang kita dengar layak disampaikan kembali. Seseorang dapat ikut menyebarkan kebohongan meskipun pada awalnya tidak berniat berdusta. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam menyampaikan berita merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.
Baca juga: Lewat Ansor University Ponorogo, Dokter Fahmi Ingin Lahirkan Kader Ansor yang Kompeten
Menjaga Lisan dan Tulisan di Ruang Digital
Selain memastikan kebenaran informasi, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan tulisan. Allah Swt. berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf [50]: 18).
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban. Dalam konteks media sosial, pesan yang diketik, komentar yang ditulis, dan berita yang dibagikan juga perlu dijaga berdasarkan prinsip tanggung jawab tersebut.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan hadis ini sangat relevan dalam menghadapi derasnya arus informasi. Tidak semua berita harus dikomentari, tidak semua perdebatan perlu diikuti, dan tidak semua informasi harus disebarluaskan.
Terkadang, memilih diam justru menjadi sikap bijaksana untuk menghindari kesalahpahaman dan konflik. Sebab, kebebasan berpendapat tidak berarti kebebasan mengabaikan tanggung jawab atas setiap perkataan.
Benar Saja Tidak Cukup, Perlu Mempertimbangkan Manfaatnya
Menyikapi berita juga membutuhkan kedewasaan berpikir. Kita perlu membedakan fakta, opini, dan dugaan. Ketiganya tidak boleh dicampuradukkan sehingga membentuk kesimpulan yang menyesatkan.
Bahkan, informasi yang benar sekalipun belum tentu bermanfaat apabila disampaikan dengan tujuan mempermalukan seseorang, memprovokasi, atau menimbulkan permusuhan.
Karena itu, sebelum membagikan informasi, ada tiga pertanyaan sederhana yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: Apakah informasi ini benar? Apakah informasi ini bermanfaat? Apakah informasi ini memang perlu disebarkan?
Pertanyaan tersebut dapat menjadi pengingat agar kita tidak sekadar menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi juga menjadi penyampai informasi yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi informasi harus berjalan beriringan dengan kematangan akhlak. Seorang Muslim tidak cukup hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki kesadaran untuk menjaga kebenaran, perkataan, dan kemaslahatan bersama.
Membiasakan tabayyun, menjaga lisan dan tulisan, serta mengutamakan manfaat merupakan langkah penting dalam membangun budaya bermedia yang sehat.
Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu, kebaikan, dan persaudaraan, bukan justru menjadi tempat tumbuhnya fitnah dan permusuhan.
Baca juga: Silaturahmi Ansor Ponorogo dengan Kapolres Baru, Perkuat Sinergi dan Kolaborasi untuk Masyarakat




